I
wanna go Home.
Rintihan yang ke kunal sebagai rindu, mendesah detik demi detik.
Sudah,
Mari Pulang Jika kau telah temukan Jawaban.
Rintihan yang ke kunal sebagai rindu, mendesah detik demi detik.
Meramu
rasa sibakkan dimensi imajinasi.
Ragaku
tampak disini, jiwaku hadir di tempat yang dirindu meski tak seutuhnya.
Iya,
imajiku memburu jiwaku dan ternyata benar memang disana dia berada.
Meraba
masa depan, menikmati imajinasi tanpa tepi yang sepi.
Berharap
merobek keperkasaan masa.
Berharap
berdiri dikaki yang akan diikuti jejaknya.
Pulang,
gegap gempita rasa terkoyak inginkan segera.
Tidak,
tapi aku tak bisa melewatkan ketenangan.
Pun jika
harus aku pulang dan segera.
Harus
kubawa ketenangan jiwa dan raga.
Aku tak
ingi pulang dengan beban dipundakku, aku ingin pulang dengan tak lagi sejuta tanya
menggelayuti pikiranku.
Iya,
aku seharusnya pulang dengan jawaban.
Pulang,
kata sederhana penuh emosi.
Semua
yang pergi, inginkan pulang. Kembali ke tempat asal, tempat dimana dia hirup
udara dan melihat dunia untuk pertama kalinya.
Manusia
akan pulang juga kepada Tuhannya kelak.
Bohong
jika mereka bilang tak ingin pulang, mereka hanya tak mampu menyangkal
alasannya sendiri.
Seperti
kata seseorang, sejauh apapun kau pergi kau akan rindu tuk kembali pulang, kembali
ke kampung halaman. Itu keniscayaan.
Sungguh
rumah sendiri adalah tempat ternyaman di dunia manapun. Tak peduli sesederhana
apa bentuknya. Ini bukan masalah besar atau kecil, luas ataupun sempit, rumah
tetaplah akan memberi candu untuk kau kembali padanya.
Pulanglah
wahai musyafir, tengoklah tempat dimana Tuhan percaya seharusnya kau berada.
Tapi
dibumi Tuhan manapun kau berada, mekarlah sejadi-jadinya, seelok-eloknya.
Senyaman apapun kau sekarang kau tak akan pernah bisa lupakan dari mana kau berasal.
Ini hakikat bahwa sesungguhnya kita pasti rindu kembali kepada Tuhan, rindu belaianNya,
kasihNya dan segala dzat ke_Tuhanan yang Ia miliki.