Hari,
Pecah pagi terbelah surya, awalnya malu, sendu, dan merajai akhirnya.
Pikirku hari ini tak jauh dari kemarin, sayup, redup, di buai hujan turun.
Pecah, Hari ini pecah juga cahaya mentari, menerka siapa saja yang ia lewati,
Yang hidup, setengah hidup, berpura hidup, sungguh hidup, semua rata.
Tak ayal gumpalan itu ikut pecah menjelang mentari hilang,
Yang menggumpal lama tak tersampaikan, terpendam dalam.
Bak lahar merajuk keluar dari sarangnya menebas semua, iya semua.
Gila, bisa sepecah itu. Tapi biarlah, setelah ini pasti gunung kan kembali tenang.
Tumpah ruah sudah, sengaja keluar semua isinya. pun segera terisi dengan yang baru.
Yang lebih bisa megindahkan. mata air yang menyejukkan segalannya.
Hari ini pecah,
Aku tak peduli rentetan aksara apa yang ku bata.
Ini tulisku, biar ku-nikmati sendiri, ku tawa-i sendiri, ku makna-i sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar