Senin, 07 Desember 2015

Lusuh,

Kata yang mungkin mewakili apa yang terjadi,
Ketika bertubi kejenuhan harus dijamu dengan kedua tangan.
Semua nampak buntu, tertahan tak mampu menerobos keluar.
Aku muak bermusuhan dengan Tuhan, iya aku sudah bosan.
Hatiku telah lusuh, Terlalu lelah, dan mungkin hampir mati rasa. Doa seperti tak satupun dihiraukan, mungkin mataku saja yang tak mampu melihatnya.
Memang aku pernah tak bersyukur, mungkin juga sering, Tapi itu dulu, dulu sekali.
Kini mulai ku belajar, tapi mengapa sepahit ini prosesnya.
Benar dulu aku pernah berdosa, mungkin pendosa yang terhebat karna bisa sembunyikan dosaku.
Telah lama aku tebus dosa-dosa itu, tapi mungkin masih saja kurang tebusan itu, mungkin karena terlalu besar dosaku itu, ah tapi aku yakin Kau tak sedendam itu kan Tuhan.
Aku masih hamba-Mu, yang pasti masih ada sisa ampunan untukku, benar kan Tuhan.
Hanya aku inigin kau segerakan ampunan itu, agar segera aku lewati perjalanan ini dengan sedikit melupakan penyesalan.
Aku ingin segera bercumbu dengan nikmatnya bersyukur. Aku telah lama meninggalkan cinta dalam hati. Aku tak sempat ber-hati. Hubunganku dengan-Mu belum membaik. Aku ketakutan dengan perasaanku, aku hilang kepercayaan dengan hatiku. Aku tak ingin gila atas nafsuku sendiri.
Hatiku sudah sangat lusuh tak terkendali, semua tak terkendali. Sudah hamper membabi buta.
Hidupku sudah lusuh seperti tak bermakna lagi, bagi diriku sendiri, pun untuk orang lain.
Perasaanku sudah lusuh haus akan embun yang ranum dipagi hari, tak pernah bosan menyejukkan.
Lusuh ini akan berlalu, derita ini akan berlalu, keterpurukan ini akan berlalu, Hanya waktu saja yang harus ku ajak berdamai.

Lusuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar