Hening Bukan?
Kala nyanyian syahdu hewan-hewan kecil tiada henti terdengar.
Kala alam berbaur gelap, sekeping cahaya yang temani.
Bias temaram pantulan sang dewi malam samar kernyitkan mata.
Aku melangkah gontai, lambaikan tanganku tak beraturan.
Syaraf pelupuk mataku bak kutub utara dan selatan, menarik keduanya.
Aku sadar angin tak temaniku di hening gelap ini.
Hanya cikal embun yang memeluk erat, dingin yang samar menemani sedari tadi.
Dengungan kipas angin yang ikhlas berjibaku merubah himpitan udara.
Aku masih saja sendiri ditemani keegoisan dan keserakahan mimpi.
Hening bukan hidup ini tanpa seorang yang menemani.
Kekesalanku atas kesendirian memusuhkan antara aku dan Tuhanku.
Ketidaksabaranku menghancurkan hatiku, ngilu terpatahkan berkeping.
Aku merasa hatiku menghitam pekat, sepekat dan sebeku malam ini.
Aku ini hina karena menghina Tuhan atas ketidak becusanku sendiri.
Aku malu menuntut Tuhan dan melupakan syukurku.
Aku terisak mengapa aku sejauh ini.
Aku telah bercinta dengan kufurku.
Sabar, kesabaranku yang hangus terbakar keakuanku.
Apapun alasannya makhluk selalu salah, Tuhan saja yang boleh benar.
Benar saja hening ku terima, aku meninggalkan Tuhan.
Hanya karena aku ingin di manja-Nya dengan nalarku.
Tidak, ternyata makhluk tak boleh seegois itu.
Jika Kau masih ijinkan, aku inginkan Kau segera penuhi hatiku denganMu,
Bilas bersih pikiranku agar tak kurasa lagi keheningan.
Hanya jika kau masih ijinkan!
Kala nyanyian syahdu hewan-hewan kecil tiada henti terdengar.
Kala alam berbaur gelap, sekeping cahaya yang temani.
Bias temaram pantulan sang dewi malam samar kernyitkan mata.
Aku melangkah gontai, lambaikan tanganku tak beraturan.
Syaraf pelupuk mataku bak kutub utara dan selatan, menarik keduanya.
Aku sadar angin tak temaniku di hening gelap ini.
Hanya cikal embun yang memeluk erat, dingin yang samar menemani sedari tadi.
Dengungan kipas angin yang ikhlas berjibaku merubah himpitan udara.
Aku masih saja sendiri ditemani keegoisan dan keserakahan mimpi.
Hening bukan hidup ini tanpa seorang yang menemani.
Kekesalanku atas kesendirian memusuhkan antara aku dan Tuhanku.
Ketidaksabaranku menghancurkan hatiku, ngilu terpatahkan berkeping.
Aku merasa hatiku menghitam pekat, sepekat dan sebeku malam ini.
Aku ini hina karena menghina Tuhan atas ketidak becusanku sendiri.
Aku malu menuntut Tuhan dan melupakan syukurku.
Aku terisak mengapa aku sejauh ini.
Aku telah bercinta dengan kufurku.
Sabar, kesabaranku yang hangus terbakar keakuanku.
Apapun alasannya makhluk selalu salah, Tuhan saja yang boleh benar.
Benar saja hening ku terima, aku meninggalkan Tuhan.
Hanya karena aku ingin di manja-Nya dengan nalarku.
Tidak, ternyata makhluk tak boleh seegois itu.
Jika Kau masih ijinkan, aku inginkan Kau segera penuhi hatiku denganMu,
Bilas bersih pikiranku agar tak kurasa lagi keheningan.
Hanya jika kau masih ijinkan!