Jumat, 13 Januari 2017



Aku Lelakimu


Datanglah bila engkau menangis
Ceritakan semua yang engkau mau
Percaya padaku aku lelakimu

Mungkin pelukku tak sehangat senja
Ucapku tak menghapus air mata
Tapi ku di sini sebagai lelakimu

Aku lah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Aku lah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti

Sudah benarkah yang engkau putuskan
Garis hidup sudah engkau tentukan
Engkau memilih aku sebagai lelakimu

Aku lah yang tetap memelukmu erat
Saat kau berpikir mungkinkah berpaling
Aku lah yang nanti menenangkan badai
Agar tetap tegar kau berjalan nanti

Selasa, 02 Agustus 2016

Nanti


Aku seorang monoton, yang kehidupannya hanya begitu-begitu saja. Entah memang tidak berwarna ataupun aku sendiri yang tidak mewarnakan diri. hidupku pun terasa datar-datar saja setidaknya menurut pemikiranku sendiri. Tapi tidak begitu pendapat orang di sekelilingku. menurut mereka hidupku ini sudah lebih dari kata berwarna. memang aku hidup jauh dari keluarga, aku hidup di perantauan dengan dalih bermimpi perbaiki nasib yang banyak di janjikan pun juga telah di buktikan oleh para pemimpi-pemimpi lainnya yang sudah beranjak lebih dulu dari kampung halamannya menuju tempat yang ramai, sesak, bising, padat, bejubel manusia, inilah yang aku juga menyebutnya kota, Iya, kota Surabaya yang katanya kota terbesar kedua setelah Jakarte si Ibu kota Negara itu. 

Di balik hari-hari yang aku lewati meski sendiri, tak jelek amat sebenarnya nasibku ini. Aku bekerja sebagai salah satu karyawan di perusahaan x, jabatan sudah lumayan mentereng, meski gaji belum berbanding lurus, Tapi masih limayan lah ketika melihat perbandingannya ke bawah. Memang hidup sebegitu bercandanya terkadang, pun sebegitu menjemukan diri. Pepatah "sawang-sinawang" yang tak lagi asing di telinga kita pastilah sudah melalui berapa zaman karena kebenarannya yang tak terelakkan. Tapi, aku yang sekarang masihlah monoton. hanya mampu memandang hal-hal di sekelilingku melalui sudutku saja. Masih sesempit rumah-rumah kontrakan atau kamar-kamar kos di gang-gang kecil di kota besar. yang bergeser ke kanan sedikit atau ke kiri sudah sama-sama mentok.

Iya Nanti, mungkin kata nanti ini pastaslah untuk sejenak menghibur diri. Melunakkan rasa bersalah, rasa rendah diri atas tak kuasanya merapal bait-bait kehidupan masa kini, masa modern. masa dimana kselalu dituntut serba cepat, serba tau, serba wah, dan aneka serba-serbinya. Nanti, berharap rapalan-rapalanku menjadi tameng kehebatan diri di masa yang akan datang. Menaklukkan ganasnya kota Surabaya ini, seperti niatku dulu menaklukkan kota Jakarta yang akhirnya aku pergi tanpa sebait kata perpisahan. Meski malu bersarang di raga, kelak akan ku kunjungi kota Nomer wahid dengan banjirnya itu, macet-nya, ganas-nya, ricuh-nya, hiruk-pikuknya bangga dengan senyum manisku sambil berkata padanya, "aku dulu pergi tinggalkanmu, sekarang aku datang dengan kemenanganku".

Mungkin nanti, kulanjutkan tulisan ini


Senin, 18 April 2016

Apa daya kiranya.


Ku usut raut wajah itu, ku cermati teramat sangat. kulucuti  tiap jengkal rasaku.
Sengaja aku perlahan meneliti, merinci, pun menanyai bilik hatiku.
Memang ada siluet bayangan darimu.
Memang ada suara-suara lirih nama. aku tak salah, itu namamu.
Tapi bukan, bukan itu yang menggelitik hatiku. entah kenapa bukan itu yang mampu memantik api rasaku, bukan namamu yang mendengungkan pendengaranku, benar bukan wajahmu yang bergelayut dipelupuk penglihatanku..

Aku sadar dan faham perasaanku ini, hatiku memang mudah mengagumi, tapi sungguh sulit mencintai, sama halnya sesulit rumus kimia dan fisika yang tak sedikitpun pernah aku fahami.
Aku tiada menyalahkan perasaan, mencintai dan dicintai itu manusiawi, 
ada kisah cinta yang melegenda dan abadi, hanya karena cinta mereka tak bersatu. menjadi cerita sejuta pilu. bahkan mampu merampas air mata dan menyesakkan hati orang yang mendengar dan melihat langsung kejadian itu.
Ada, ada pula kisah cinta yang indah melebihi indahnya sejuta bunga di taman. yang dengan kisah itu bisa membakar semangat juang para pecinta untuk mendapatkan yang dicintainya. bak sihir dari kerajaan para penyilhir ulung.
Ini bukan memang tak sesederhana yang kita fikirkan, ketika ada yang kita cintai pasti ada yang mencintai kita.
dari dulu begitulah cinta. berulang kisahnya. 







Kamis, 21 Januari 2016

Hening Bukan?


Kala nyanyian syahdu hewan-hewan kecil tiada henti terdengar.
Kala alam berbaur gelap, sekeping cahaya yang temani.
Bias temaram pantulan sang dewi malam samar kernyitkan mata.
Aku melangkah gontai, lambaikan tanganku tak beraturan.
Syaraf pelupuk mataku bak kutub utara dan selatan, menarik keduanya.
Aku sadar angin tak temaniku di hening gelap ini.
Hanya cikal embun yang memeluk erat, dingin yang samar menemani sedari tadi.
Dengungan kipas angin yang ikhlas berjibaku merubah himpitan udara.
Aku masih saja sendiri ditemani keegoisan dan keserakahan mimpi.
Hening bukan hidup ini tanpa seorang yang menemani.
Kekesalanku atas kesendirian memusuhkan antara aku dan Tuhanku.
Ketidaksabaranku menghancurkan hatiku, ngilu terpatahkan berkeping.
Aku merasa hatiku menghitam pekat, sepekat dan sebeku malam ini.
Aku ini hina karena menghina Tuhan atas ketidak becusanku sendiri.
Aku malu menuntut Tuhan dan melupakan syukurku.
Aku terisak mengapa aku sejauh ini.
Aku telah bercinta dengan kufurku.
Sabar, kesabaranku yang hangus terbakar keakuanku.
Apapun alasannya makhluk selalu salah, Tuhan saja yang boleh benar.
Benar saja hening ku terima, aku meninggalkan Tuhan.
Hanya karena aku ingin di manja-Nya dengan nalarku.
Tidak, ternyata makhluk tak boleh seegois itu.
Jika Kau masih ijinkan, aku inginkan Kau segera penuhi hatiku denganMu,
Bilas bersih pikiranku agar tak kurasa lagi keheningan.
Hanya jika kau masih ijinkan!





Selasa, 12 Januari 2016

Butir Ter-samar-kan

Ku susuri hingga aku terisak tanpa tangis, perih karena kecewa bukan karena rasa.
Tak ada sesuatu yang disebut perasaan, kecewa-ku bukan disebabkan itu, bukan karena perasaan.
Kecewa-ku karena aku kalah menghadapinya, karena aku terbawa kelakuannya.
Karenanya prinsip-ku ter-samar-kan tiada aku sadari.
Aku seharusnya tak melakukan apa yang dia lakukan terhadap-ku.
Entah dia tidak tau, tak paham, ataupun sama sekali se-kolot itu.
Mungkin karena hanya baru kali ini aku temui manusia se-gokil kekolotannya.
Layaknya manusia merasa bersalah, dia tidak. jangan kan mencoba ucap maaf. tak hentinya dia merasa benar dan terus menyalahkan.
Bisa jadi urat perasaan bersalahnya sudah putus, mungkin juga sengaja diputus.
Manusia yang menurutku tak punya inisiatif, semoga penafsiranku salah.

Itu yang sebabkan kecewaku terlalu dalam, pernah menjadi benci.

Tapi segera aku tersadarkan, yang tersamarkan akan ku raih kembali.

Aku harus menjadi seperti sebelumnya.
Aku kan melakukan yang aku ingini saja.
Aku berusaha melebarkan hati kembali
Tak peduli kau berbuat tak indah, aku akan berbuat indah.
Biar kau malu dengan dirimu, ah rasanya tak mungkin kau punya malu lagi.
Tapi aku doakan kau segera menjadi pribadi yang lebih baik. dan bisa membuang jauh keegoisanmu itu.
Kau mungkin akan tersadar jika semua orang disekitarmu terdiam.
Diam tak pedulikan apa yang kau perbuat. Tak peduli omongan kamu, tingkah laku mu. ucapanmu.
Semua semua tentangmu akan dimasukkan telinga kiri menembus telinga kanan tak sedikitpun di beri jeda untuk berhenti, itu ketika lelah, jenuh, bosan menghiasi orang disekitarmu.
Itu mungkin karena usiamu yang masih se-cabe rawit, masih pedes-pedesnya. bisa juga karena lingkunganmu yang membentuk pola pikiranmu.bahkan itu sudah karakter yang tertanam di dirimu yang pasti akan sulit kau hapuskan.
Itu hidupmu, sebisaku ku ingatkan . seterusnya pilihlah sendiri jalan hidup itu.
#Teman

Kamis, 10 Desember 2015

I wanna go Home.

Rintihan yang ke kunal sebagai rindu, mendesah detik demi detik.
Meramu rasa sibakkan dimensi imajinasi.
Ragaku tampak disini, jiwaku hadir di tempat yang dirindu meski tak seutuhnya.
Iya, imajiku memburu jiwaku dan ternyata benar memang disana dia berada.
Meraba masa depan, menikmati imajinasi tanpa tepi yang sepi.
Berharap merobek keperkasaan masa.
Berharap berdiri dikaki yang akan diikuti jejaknya.
Pulang, gegap gempita rasa terkoyak inginkan segera.
Tidak, tapi aku tak bisa melewatkan ketenangan.
Pun jika harus aku pulang dan segera.
Harus kubawa ketenangan jiwa dan raga.
Aku tak ingi pulang dengan beban dipundakku, aku ingin pulang dengan tak lagi sejuta tanya menggelayuti pikiranku.
Iya, aku seharusnya pulang dengan jawaban.
Pulang, kata sederhana penuh emosi.
Semua yang pergi, inginkan pulang. Kembali ke tempat asal, tempat dimana dia hirup udara dan melihat dunia untuk pertama kalinya.
Manusia akan pulang juga kepada Tuhannya kelak.
Bohong jika mereka bilang tak ingin pulang, mereka hanya tak mampu menyangkal alasannya sendiri.
Seperti kata seseorang, sejauh apapun kau pergi kau akan rindu tuk kembali pulang, kembali ke kampung halaman. Itu keniscayaan.
Sungguh rumah sendiri adalah tempat ternyaman di dunia manapun. Tak peduli sesederhana apa bentuknya. Ini bukan masalah besar atau kecil, luas ataupun sempit, rumah tetaplah akan memberi candu untuk kau kembali padanya.

Pulanglah wahai musyafir, tengoklah tempat dimana Tuhan percaya seharusnya kau berada.
Tapi dibumi Tuhan manapun kau berada, mekarlah sejadi-jadinya, seelok-eloknya. Senyaman apapun kau sekarang kau tak akan pernah bisa lupakan dari mana kau berasal. Ini hakikat bahwa sesungguhnya kita pasti rindu kembali kepada Tuhan, rindu belaianNya, kasihNya dan segala dzat ke_Tuhanan yang Ia miliki. 

Sudah, Mari Pulang Jika kau telah temukan Jawaban.

Selasa, 08 Desember 2015


Hari,


Pecah pagi terbelah surya, awalnya malu, sendu, dan merajai akhirnya.
Pikirku hari ini tak jauh dari kemarin, sayup, redup, di buai hujan turun.
Pecah, Hari ini pecah juga cahaya mentari, menerka siapa saja yang ia lewati,
Yang hidup, setengah hidup, berpura hidup, sungguh hidup, semua rata.

Tak ayal gumpalan itu ikut pecah menjelang mentari hilang,
Yang menggumpal lama tak tersampaikan, terpendam dalam.
Bak lahar merajuk keluar dari sarangnya menebas semua, iya semua.
Gila, bisa sepecah itu. Tapi biarlah, setelah ini pasti gunung kan kembali tenang.
Tumpah ruah sudah, sengaja keluar semua isinya. pun segera terisi dengan yang baru.
Yang lebih bisa megindahkan. mata air yang menyejukkan segalannya.
Hari ini pecah,

Aku tak peduli rentetan aksara apa yang ku bata.
Ini tulisku, biar ku-nikmati sendiri, ku tawa-i sendiri, ku makna-i sendiri.