Kamis, 10 Desember 2015

I wanna go Home.

Rintihan yang ke kunal sebagai rindu, mendesah detik demi detik.
Meramu rasa sibakkan dimensi imajinasi.
Ragaku tampak disini, jiwaku hadir di tempat yang dirindu meski tak seutuhnya.
Iya, imajiku memburu jiwaku dan ternyata benar memang disana dia berada.
Meraba masa depan, menikmati imajinasi tanpa tepi yang sepi.
Berharap merobek keperkasaan masa.
Berharap berdiri dikaki yang akan diikuti jejaknya.
Pulang, gegap gempita rasa terkoyak inginkan segera.
Tidak, tapi aku tak bisa melewatkan ketenangan.
Pun jika harus aku pulang dan segera.
Harus kubawa ketenangan jiwa dan raga.
Aku tak ingi pulang dengan beban dipundakku, aku ingin pulang dengan tak lagi sejuta tanya menggelayuti pikiranku.
Iya, aku seharusnya pulang dengan jawaban.
Pulang, kata sederhana penuh emosi.
Semua yang pergi, inginkan pulang. Kembali ke tempat asal, tempat dimana dia hirup udara dan melihat dunia untuk pertama kalinya.
Manusia akan pulang juga kepada Tuhannya kelak.
Bohong jika mereka bilang tak ingin pulang, mereka hanya tak mampu menyangkal alasannya sendiri.
Seperti kata seseorang, sejauh apapun kau pergi kau akan rindu tuk kembali pulang, kembali ke kampung halaman. Itu keniscayaan.
Sungguh rumah sendiri adalah tempat ternyaman di dunia manapun. Tak peduli sesederhana apa bentuknya. Ini bukan masalah besar atau kecil, luas ataupun sempit, rumah tetaplah akan memberi candu untuk kau kembali padanya.

Pulanglah wahai musyafir, tengoklah tempat dimana Tuhan percaya seharusnya kau berada.
Tapi dibumi Tuhan manapun kau berada, mekarlah sejadi-jadinya, seelok-eloknya. Senyaman apapun kau sekarang kau tak akan pernah bisa lupakan dari mana kau berasal. Ini hakikat bahwa sesungguhnya kita pasti rindu kembali kepada Tuhan, rindu belaianNya, kasihNya dan segala dzat ke_Tuhanan yang Ia miliki. 

Sudah, Mari Pulang Jika kau telah temukan Jawaban.

Selasa, 08 Desember 2015


Hari,


Pecah pagi terbelah surya, awalnya malu, sendu, dan merajai akhirnya.
Pikirku hari ini tak jauh dari kemarin, sayup, redup, di buai hujan turun.
Pecah, Hari ini pecah juga cahaya mentari, menerka siapa saja yang ia lewati,
Yang hidup, setengah hidup, berpura hidup, sungguh hidup, semua rata.

Tak ayal gumpalan itu ikut pecah menjelang mentari hilang,
Yang menggumpal lama tak tersampaikan, terpendam dalam.
Bak lahar merajuk keluar dari sarangnya menebas semua, iya semua.
Gila, bisa sepecah itu. Tapi biarlah, setelah ini pasti gunung kan kembali tenang.
Tumpah ruah sudah, sengaja keluar semua isinya. pun segera terisi dengan yang baru.
Yang lebih bisa megindahkan. mata air yang menyejukkan segalannya.
Hari ini pecah,

Aku tak peduli rentetan aksara apa yang ku bata.
Ini tulisku, biar ku-nikmati sendiri, ku tawa-i sendiri, ku makna-i sendiri. 

Senin, 07 Desember 2015

Lusuh,

Kata yang mungkin mewakili apa yang terjadi,
Ketika bertubi kejenuhan harus dijamu dengan kedua tangan.
Semua nampak buntu, tertahan tak mampu menerobos keluar.
Aku muak bermusuhan dengan Tuhan, iya aku sudah bosan.
Hatiku telah lusuh, Terlalu lelah, dan mungkin hampir mati rasa. Doa seperti tak satupun dihiraukan, mungkin mataku saja yang tak mampu melihatnya.
Memang aku pernah tak bersyukur, mungkin juga sering, Tapi itu dulu, dulu sekali.
Kini mulai ku belajar, tapi mengapa sepahit ini prosesnya.
Benar dulu aku pernah berdosa, mungkin pendosa yang terhebat karna bisa sembunyikan dosaku.
Telah lama aku tebus dosa-dosa itu, tapi mungkin masih saja kurang tebusan itu, mungkin karena terlalu besar dosaku itu, ah tapi aku yakin Kau tak sedendam itu kan Tuhan.
Aku masih hamba-Mu, yang pasti masih ada sisa ampunan untukku, benar kan Tuhan.
Hanya aku inigin kau segerakan ampunan itu, agar segera aku lewati perjalanan ini dengan sedikit melupakan penyesalan.
Aku ingin segera bercumbu dengan nikmatnya bersyukur. Aku telah lama meninggalkan cinta dalam hati. Aku tak sempat ber-hati. Hubunganku dengan-Mu belum membaik. Aku ketakutan dengan perasaanku, aku hilang kepercayaan dengan hatiku. Aku tak ingin gila atas nafsuku sendiri.
Hatiku sudah sangat lusuh tak terkendali, semua tak terkendali. Sudah hamper membabi buta.
Hidupku sudah lusuh seperti tak bermakna lagi, bagi diriku sendiri, pun untuk orang lain.
Perasaanku sudah lusuh haus akan embun yang ranum dipagi hari, tak pernah bosan menyejukkan.
Lusuh ini akan berlalu, derita ini akan berlalu, keterpurukan ini akan berlalu, Hanya waktu saja yang harus ku ajak berdamai.

Lusuh