Semburat Kerinduan
Gemericik air kala fajar menyapa, menggelitik pendengaranku.
Mataku terbuka, mencoba tak
tertutup lagi.
Ku dengar sayup gemericik itu, ah,
ternyata itu bukan air.
Tak lain , itu kamu yang bahkan telah
kuasai alam bawah sadarku.
Kerinduan ini aku paksa menjadi
indah. Mataku hampir tertutup, dan hanya kau yang nampak.
Hatiku mulai menutup satu-satunya
pintu masuk, karena kau sudah disana.
Langkahku tertahan berlari menuju
tubuhmu, untuk ku peluk hempaskan sesak didada.
Akan ku habiskan air mataku karena
merindu. Aku baru tahu rindu bisa sejahat ini padaku.
Tanganku ingin segera menggenggam
jemarimu yang mungil, biarkan aku tak melepasnya hingga ruh_ku yang terlepas.
Keningnmu, segera ijinkan aku mengecupnya.
Dan bersujud bersama.
Wajahmu, jadilah yang pertama
terlihat ketika ku buka mata, juga yang terakhir ketika ku menutupnya.
Senyummu, itu pasti menjadi ramuan
ajaib penghilang peluhku.
Tidak, rindu ini tak mungkin
membunuhku.
Rinduku padamu membuatku merindu Sang
Pembuat rindu.
Karena_Nya aku merindumu. Engkau
tak perlu tahu, tiap waktu aku meminta padaNya, agar nanti kita diijinkan
saling melepas rindu. Memadu kasih. Menapaki kehidupan berdua yang kemudian
ditambah peri-peri kecil kita yang semoga menjadi pejuang. Memperjuangkan dan
membumikan cinta dah kasih.
Tuhan, biar rindu ini menjadikan
penantian yang indah, dan akhir yang penuh air mata kebahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar