Sabtu, 24 Oktober 2015

Semburat Kerinduan

Gemericik air kala fajar menyapa, menggelitik pendengaranku.
Mataku terbuka, mencoba tak tertutup lagi.
Ku dengar sayup gemericik itu, ah, ternyata itu bukan air.
Tak lain , itu kamu yang bahkan telah kuasai alam bawah sadarku.
Kerinduan ini aku paksa menjadi indah. Mataku hampir tertutup, dan hanya kau yang nampak.
Hatiku mulai menutup satu-satunya pintu masuk, karena kau sudah disana.
Langkahku tertahan berlari menuju tubuhmu, untuk ku peluk hempaskan sesak didada.
Akan ku habiskan air mataku karena merindu. Aku baru tahu rindu bisa sejahat ini padaku.
Tanganku ingin segera menggenggam jemarimu yang mungil, biarkan aku tak melepasnya hingga ruh_ku yang terlepas.
Keningnmu, segera ijinkan aku mengecupnya. Dan bersujud bersama.
Wajahmu, jadilah yang pertama terlihat ketika ku buka mata, juga yang terakhir ketika ku menutupnya.
Senyummu, itu pasti menjadi ramuan ajaib penghilang peluhku.
Tidak, rindu ini tak mungkin membunuhku.
Rinduku padamu membuatku merindu Sang Pembuat rindu.
Karena_Nya aku merindumu. Engkau tak perlu tahu, tiap waktu aku meminta padaNya, agar nanti kita diijinkan saling melepas rindu. Memadu kasih. Menapaki kehidupan berdua yang kemudian ditambah peri-peri kecil kita yang semoga menjadi pejuang. Memperjuangkan dan membumikan cinta dah kasih.
Tuhan, biar rindu ini menjadikan penantian yang indah, dan akhir yang penuh air mata kebahagiaan.

Tuhan, aku merindu orang yang Kau rindukan. Sungguh, biarkan aku dan Engkau sama-sama merindunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar