Senin, 18 April 2016

Apa daya kiranya.


Ku usut raut wajah itu, ku cermati teramat sangat. kulucuti  tiap jengkal rasaku.
Sengaja aku perlahan meneliti, merinci, pun menanyai bilik hatiku.
Memang ada siluet bayangan darimu.
Memang ada suara-suara lirih nama. aku tak salah, itu namamu.
Tapi bukan, bukan itu yang menggelitik hatiku. entah kenapa bukan itu yang mampu memantik api rasaku, bukan namamu yang mendengungkan pendengaranku, benar bukan wajahmu yang bergelayut dipelupuk penglihatanku..

Aku sadar dan faham perasaanku ini, hatiku memang mudah mengagumi, tapi sungguh sulit mencintai, sama halnya sesulit rumus kimia dan fisika yang tak sedikitpun pernah aku fahami.
Aku tiada menyalahkan perasaan, mencintai dan dicintai itu manusiawi, 
ada kisah cinta yang melegenda dan abadi, hanya karena cinta mereka tak bersatu. menjadi cerita sejuta pilu. bahkan mampu merampas air mata dan menyesakkan hati orang yang mendengar dan melihat langsung kejadian itu.
Ada, ada pula kisah cinta yang indah melebihi indahnya sejuta bunga di taman. yang dengan kisah itu bisa membakar semangat juang para pecinta untuk mendapatkan yang dicintainya. bak sihir dari kerajaan para penyilhir ulung.
Ini bukan memang tak sesederhana yang kita fikirkan, ketika ada yang kita cintai pasti ada yang mencintai kita.
dari dulu begitulah cinta. berulang kisahnya.