Butir Ter-samar-kan
Ku susuri hingga aku terisak tanpa tangis, perih karena kecewa bukan karena rasa.
Tak ada sesuatu yang disebut perasaan, kecewa-ku bukan disebabkan itu, bukan karena perasaan.
Kecewa-ku karena aku kalah menghadapinya, karena aku terbawa kelakuannya.
Karenanya prinsip-ku ter-samar-kan tiada aku sadari.
Aku seharusnya tak melakukan apa yang dia lakukan terhadap-ku.
Entah dia tidak tau, tak paham, ataupun sama sekali se-kolot itu.
Mungkin karena hanya baru kali ini aku temui manusia se-gokil kekolotannya.
Layaknya manusia merasa bersalah, dia tidak. jangan kan mencoba ucap maaf. tak hentinya dia merasa benar dan terus menyalahkan.
Bisa jadi urat perasaan bersalahnya sudah putus, mungkin juga sengaja diputus.
Manusia yang menurutku tak punya inisiatif, semoga penafsiranku salah.
Itu yang sebabkan kecewaku terlalu dalam, pernah menjadi benci.
Tapi segera aku tersadarkan, yang tersamarkan akan ku raih kembali.
Aku harus menjadi seperti sebelumnya.
Aku kan melakukan yang aku ingini saja.
Aku berusaha melebarkan hati kembali
Tak peduli kau berbuat tak indah, aku akan berbuat indah.
Biar kau malu dengan dirimu, ah rasanya tak mungkin kau punya malu lagi.
Tapi aku doakan kau segera menjadi pribadi yang lebih baik. dan bisa membuang jauh keegoisanmu itu.
Kau mungkin akan tersadar jika semua orang disekitarmu terdiam.
Diam tak pedulikan apa yang kau perbuat. Tak peduli omongan kamu, tingkah laku mu. ucapanmu.
Semua semua tentangmu akan dimasukkan telinga kiri menembus telinga kanan tak sedikitpun di beri jeda untuk berhenti, itu ketika lelah, jenuh, bosan menghiasi orang disekitarmu.
Itu mungkin karena usiamu yang masih se-cabe rawit, masih pedes-pedesnya. bisa juga karena lingkunganmu yang membentuk pola pikiranmu.bahkan itu sudah karakter yang tertanam di dirimu yang pasti akan sulit kau hapuskan.
Itu hidupmu, sebisaku ku ingatkan . seterusnya pilihlah sendiri jalan hidup itu.
#Teman
Ku susuri hingga aku terisak tanpa tangis, perih karena kecewa bukan karena rasa.
Tak ada sesuatu yang disebut perasaan, kecewa-ku bukan disebabkan itu, bukan karena perasaan.
Kecewa-ku karena aku kalah menghadapinya, karena aku terbawa kelakuannya.
Karenanya prinsip-ku ter-samar-kan tiada aku sadari.
Aku seharusnya tak melakukan apa yang dia lakukan terhadap-ku.
Entah dia tidak tau, tak paham, ataupun sama sekali se-kolot itu.
Mungkin karena hanya baru kali ini aku temui manusia se-gokil kekolotannya.
Layaknya manusia merasa bersalah, dia tidak. jangan kan mencoba ucap maaf. tak hentinya dia merasa benar dan terus menyalahkan.
Bisa jadi urat perasaan bersalahnya sudah putus, mungkin juga sengaja diputus.
Manusia yang menurutku tak punya inisiatif, semoga penafsiranku salah.
Itu yang sebabkan kecewaku terlalu dalam, pernah menjadi benci.
Tapi segera aku tersadarkan, yang tersamarkan akan ku raih kembali.
Aku harus menjadi seperti sebelumnya.
Aku kan melakukan yang aku ingini saja.
Aku berusaha melebarkan hati kembali
Tak peduli kau berbuat tak indah, aku akan berbuat indah.
Biar kau malu dengan dirimu, ah rasanya tak mungkin kau punya malu lagi.
Tapi aku doakan kau segera menjadi pribadi yang lebih baik. dan bisa membuang jauh keegoisanmu itu.
Kau mungkin akan tersadar jika semua orang disekitarmu terdiam.
Diam tak pedulikan apa yang kau perbuat. Tak peduli omongan kamu, tingkah laku mu. ucapanmu.
Semua semua tentangmu akan dimasukkan telinga kiri menembus telinga kanan tak sedikitpun di beri jeda untuk berhenti, itu ketika lelah, jenuh, bosan menghiasi orang disekitarmu.
Itu mungkin karena usiamu yang masih se-cabe rawit, masih pedes-pedesnya. bisa juga karena lingkunganmu yang membentuk pola pikiranmu.bahkan itu sudah karakter yang tertanam di dirimu yang pasti akan sulit kau hapuskan.
Itu hidupmu, sebisaku ku ingatkan . seterusnya pilihlah sendiri jalan hidup itu.
#Teman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar